Minggu, 28 April 2019
Maia story
Aku pernah menjalani hubungan dengan seseorang yang ku sebut sebagai mantan dimana mempunyai kisah sangatlah pelik, kisah kita berakhir karena aku harus merelakan dia bersama orang yang jauh lebih mencintainya. Ya berawal dari rasa kasihan dia terhadap kondisi sahabatnya yang membuat hubungan kita tidak semanis seperti janji yang telah diucapkannya dahulu ketika ingin menjadikan aku sebagai pacarnya. Menjelang berakhirnya hubungan kita, saat itu rasanya tidak lagi senyaman dan seromantis seperti disaat memulai menjalani hubungan kita. Aku ingat ketika dia menyatakan cintanya kala itu dengan memberikan secarik surat. Isi surat tersebut menyatakan bahwa dia ingin menjadi pacarku. Aku tidak menyangka ternyata kita memiliki rasa yang sama yang disebut sebagai cinta dan kita pun pacaran. Tetapi aku tidak begitu meyakini bahwa hubungan kami akan berjalan dengan baik, ada sesuatu yang mengganjal di fikiranku tentang dia. Namun aku menganggapnya merupakan suatu hal yang biasa. Ya percaya atau tidak disaat kita memulai suatu hubungan pasti semuanya akan terasa manis meskipun tanpa bahan pemanis layaknya pelengkap adonan kue. Manis disini artinya tidak hanya kata-kata romantis yang selalu ada tetapi juga perhatian dan kepercayaan yang kala itu tersusun sedemikian rupa. Tiada ada waktu yang tidak pernah kita lewati bersama, rasanya ingin menghentikan waktu walaupun hanya sedetik saja agar bisa terus bersama. Namun, sayang itu tidak berlangsung lama. Jenuh, mungkin kata yang tepat untuk mendeskripsikan hubungan kita saat itu. Mungkin kita terlalu sering menghabiskan waktu bersama sehingga rasa bosan yang berakhir dengan rasa jenuh pun hadir. Aku belajar ternyata cinta butuh waktu dimana kita tidak harus sering menghabiskan waktu bersama agar tidak menghadirkan kedua rasa itu. Lalu aku terus mencari apa yang menyebabkan aku merasa jenuh padanya, padahal dulu aku selalu ingin bersamanya tetapi mengapa kini perasaan itu bisa berubah. Mungkin cinta butuh ruang dan waktu dimana kita berhenti sejenak untuk tidak saling bertemu. Namun menurut psikolog menyatakan bahwa jika kau benar-benar mencintai seseorang maka perasaan jenuh tidak mungkin ada dan yang ada hanyalah rasa cinta akan semakin bertambah. Aku pun berfikir apakah benar-benar tidak mencintai dengan rasa cinta yang sebenarnya. Aku terus berusaha agar hubungan kita tetap baik-baik saja, tetapi apalah daya jika dalam suatu hubungan yang berjuang hanya aku lalu apakah hubungan kita akan tetap bertahan? Kenyataan pahit pun harus ku terima ternyata dia memilih untuk tidak menghabiskan waktu lagi bersamaku karena dia ingin menjaga seseorang yang disebutnya sebagai sahabat. Awalnya aku menghilangkan fikiran negatifku tentang hubungan mereka dengan alasan sahabatnya tersebut menderita suatu penyakit yang tidak bisa dijelaskan. Tetapi lambat laun rahasia itu pun terungkap, dimana sahabatnya tersebut sebenarnya telah membohonginya. Sahabatnya tersebut sebenarnya tidak menderita suatu penyakit apapun hanya saja ia membohongi pacarku hanya untuk menarik perhatian pacarku dan agar ia berharap dapat mencapai tujuannya. Aku menegur orang itu dan bertanya mengapa dia melakukan hal itu, dia pun menjawab 'Aku tidak mempunyai cara lain untuk mencapai tujuanku sehingga aku harus membohongi pacarmu. Aku mencintainya, jika cinta bisa diukur aku siap untuk melakukan pengukuran itu untuk membuktikan bahwa cintaku lebih baik untuknya. Aku tidak merelakan dia menjalin hubungan denganmu. Ya memang benar ada istilah jika cinta harus mengikhlaskan dia bersama orang yang dicintainya tetapi tidak untukku aku tidak bisa menerima istilah itu. Aku berharap kamu juga mengerti akan perasaanku, aku tidak bisa hidup tanpanya dan inilah cinta menurutku. Aku harus mengejarnya karena inilah cinta versiku'. Aku pun menjawab 'Jika Anda benar-benar mengingatkannya lantas apakah cara Anda cukup berhasil agar bisa mencapai tujuan Anda? Disini kita tidak perlu berdebat untuk memperebutkan seseorang yang belum tentu menjadi jodoh kita, karena itu akan membuang waktu saja. Aku tidak akan mengatakan yang sejujurnya kepada dia tentang kebohongan Anda. Tetapi aku berharap dia sendiri yang akan mengetahuinya'. Setelah itu aku pun pergi meninggalkannya. Entah apa yang terbesit difikiranku saat itu hingga aku berani mengatakan bahwa pacarku belum tentu jodohku. Aku pun berusaha memberitahu dan meyakinkan pacarku bahwa sahabatnya itu berbohong padanya, namun sepertinya percuma usahaku sia-sia dan aku berharap akan ada keajaiban dimana akhirnya dia akan mengetahui tentang kebohongan sahabatnya. Namun sepertinya takdir memang tidak menginginkan kita bersama. Hingga pada suatu hari aku menyaksikan dengan jelas bahwa sebenarnya pacarku dan sahabatnya telah berhubungan lebih dari sekedar sahabat bahkan mereka ingin memperkuat hubungan mereka dengan cara bertunangan. Melihat hal itu aku pun menemui mereka dan bertanya 'Apakah ini yang disebut sebagai sahabat? Ternyata kalian bekerja sama untuk membohongiku tentang hubungan kalian yang sebenarnya.' Maia, aku minta maaf aku terpaksa melakukan ini! Fira sakitnya makin parah dan dia butuh aku. Aku ingin kita tetap berpacaran karena aku masih mencintai kamu, aku yakin setelah Fira sembuh hubungan kita akan kembali lagi seperti semula' begitu ungkapnya. Aku pun tersenyum dan berkata 'Kita memang akan tetap saling berhubungan tetapi bukan sebagai pacar, aku memang telah menduga ini akan terjadi. Seseorang yang mencintaimu lebih dari rasa cintaku padamu memang lebih tepat untukmu dibandingkan aku. Tetapi ingatlah jika suatu hari nanti kamu mengetahui kebohongan tunanganmu ini, jangan lagi berharap untuk kembali lagi padaku. Mulai hari ini dan nanti aku akan selalu mendukung hubungan kalian, aku tidak akan mengganggu ataupun merusak hubungan kalian. Kalau pun suatu hari nanti kalian berpisah aku tetap tidak ingin menjalin hubungan lagi denganmu. Karena sesuatu yang sudah menjadi sampah memang sudah selayaknya dibuang pada tempatnya' setelah mengatakan itu aku pun ingin pergi meninggalkan mereka, namun sayangnya aku ditahan oleh dia yang telah menjadi mantanku. 'Kamu mengetahui bahwa aku terpaksa melakukan ini lalu mengapa kamu ingin pergi? kata sang mantan.' Terpaksa, okey jika pertanyaan itu aku kembalikan padamu lalu alasan apalagi yang harus kau katakan selain kata keterpaksaan? Sungguh ironis, kamu menginginkan aku tetap berada disini hanya untuk melihat pertunanganmu dengan dia sementara kamu masih juga tetap menginginkan aku menjadi pacarmu? Lalu dimana hatimu? Mungkin itu adalah lagu yang pas untukmu saat ini. Hey ingat, aku telah memberikanmu padanya itu artinya aku telah memutuskan hubungan kita bahkan jauh dari sebelum aku mengetahui tentang hubungan kalian. Maaf jika aku membentakmu karena ini adalah keputusanku, kau tidak bisa mengganggu gugat keputusanku begitu pun juga aku tidak bisa menganggu gugat keputusanmu. Terima dan hargai itu, aku pergi bukan berarti aku bersedih tetapi aku senang akhirnya kau bisa bersama orang yang jauh lebih mencintaimu dibandingkan aku. Aku pergi dan aku berharap kau bisa berbahagia dengan tunanganmu dan terima kasih telah menjadi bagian dari kisah hidupku' aku pun pergi meninggalkan mereka. 3 tahun pun berlalu, kini aku bekerja di salah satu perusahaan ternama di Palembang dan pada suatu hari atasanku menempatkanku di pinggiran kota. Pada suatu pagi aku terburu-buru untuk pergi ke tempat ku bekerja dan secara tidak sengaja aku menabrak seseorang. Ternyata seseorang tersebut adalah mantanku yang juga bekerja di kantor itu juga. 'Maia, kamu karyawan baru disini?' tanyanya. 'Iya bosku mengirim aku kemarin ke kantor ini, maaf ya aku buru-buru soalnya ini adalah hari pertama aku bekerja disini' jawabku dan aku pun pergi meninggalkannya. Aku tidak menduga mengapa aku bisa bertemu dengannya disaat aku telah melupakannya. Jam istirahat pun tiba, aku berharap aku tidak lagi bertemu dengannya tetapi harapanku sia-sia. Ternyata di kantin aku malah duduk semeja dengannya, lau apa yang harus aku lakukan? Aku pun pasrah dengan keadaan itu, karena tidak mungkin lagi aku menghindarinya. Bukankah kisahku dengannya dahulu telah usai, lalu untuk apa kau menghindarinya pikirku. Aku tidak ingin memulai pembicaraan, karena aku memang tidak ingin berbicara dengannya. Tetapi apalah daya, dia yang memulai pembicaraan dan apa yang menjadi topik pembicaraannya? Tidak lain dan tidak bukan adalah kisah di masa lalu. Dia mngatakan bahwa dia tidak lagi berhubungan dengan sahabatnya dahulu karena dia telah dibohongi oleh mantan tunangannya itu. Sehingga dia memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan mantan tunangannya itu. 'Ya jika itu memang telah menjadi keputusanmu, lalu apa hubungannya denganku? Aku telah melupakan kisah kita di masa lalu bagiku itu hanya menjadi penggalan dari kisah hidupku. Bagiku kisah kita telah usai tidak ada kata terlambat ataupun kata penyesalan' jawabku. 'Tetapi aku masih tetap menginginkanmu, karena Fira telah mengatakan bahwa kau mengetahui kebohongannya dan kau sengaja untuk tidak memberitahukannya kepadaku. Mengapa...' kata-katanya terpotong oleh ku. 'Mengapa aku melakukan itu padamu dan itu yang ingin kau tanyakan? Kala itu aku sudah merasa jenuh padamu dan mulai merasa bahwa aku tidak lagi mencintaimu. Bukankah aku telah mengatakan padamu yang sebenarnya tentang siapa mantan tunangan lalu mengapa kau masih menyalahkan aku? Setelah aku mengetahui yang sebenarnya tentang hubunganmu dan mantan tunanganmu, entah mengapa aku tidak merasakan kesedihan yang begitu mendalam. Karena mengapa? Karena akhirnya aku mengetahui bahwa kau tidak benar-benar mencintaiku' jawabku. 'Aku telah mengatakan bahwa aku mencintaimu' tegasnya. 'Ya mungkin saja kau memang benar-benar mencintaiku, tetapi tidak denganku karena aku merasa jenuh dengan hubungan kita, bahkan hubungan kita kala itu tidak lagi membuatku nyaman dan seromantis seperti saat kita memulai hubungan dan ketika mantan tunanganmu mengatakan bahwa dia lebih mencintaimu daripada aku. Entah mengapa aku menerimanya dan bukankah itu artinya aku tidak lagi mencintaimu. Begitu juga dengan kamu, kamu dengan begitu mudahnya membohongiku untuk menutupi hubunganmu bersamanya, lalu itu yang kau sebut dengan cinta? ' tanyaku.' Tapi...'. 'Jika kamu pergi tanpa berpamitan, lalu mengapa kau kembali dengan sebuah alasan? Pada pertemuan kita kali ini aku tidak membutuhkan penjelasan apapun darimu, karena percuma untuk apa menjelaskan sesuatu yang tidak lagi berhubungan denganku. Memaafkanmu tidak harus aku menyetujui untuk kita kembali lagi seperti dulu, lagi pula bukankah kamu sudah bertunangan? Tetapi mengapa kau bisa semudah itu mengabaikan tunanganmu hanya demi aku? Dan secepat itukah hatimu berpaling kepada yang lain? 'tanyaku. 'Aku menyesalinya' jawabnya. 'Jika nasi yang telah menjadi bubur yang lunak, maka tidak akan bisa dirubah lagi menjadi butiran yang keras seperti layaknya beras baik aku ataupun kamu tidak bisa mengubah itu. Maaf, aku tidak mempunyai banyak waktu karena sebentar lagi sosialisasi ku dimulai. Terima kasih' jawabku. Aku pun meninggalkannya untuk sosialisasi ku dengan petani setempat, dua jam pun berlalu. Sosialisasi ku pun selesai, aku lalu kembali ke tempat penginapan. Aku berada di tempat tersebut selama 2 minggu, aku berharap tidak lagi bertemu dengannya dan ternyata harapan ku terkabul. Aku tidak lagi bertemu dengannya setelah hari itu. Hingga sosialisasi ku selesai. Beberapa tahun pun berlalu, aku tidak mengetahui perkembangan tentang kelanjutan antara dia dan tunangannya. Bukan tidak ingin mencari tahu tetapi lebih memilih untuk menghindarinya. Aku berharap dia bahagia dengan tunangannya. Inilah cerita antara aku dan mantanku, kenyataan pahit yang ku terima tak lantas membuatku melupakan cerita yang pernah ada. Tetapi anehnya pada suatu hari aku bertemu dengan seseorang yang mirip sekali dengan mantanku dan aku bertemu dengan orang itu secara tidak sengaja ketika aku dan dia berada di dalam satu bus yang sama. Entah mengapa kesan aku dapatkan ketika pertama kali bertemu dengannya aku merasa nyaman dengannya. Beberapa menit kemudian tibalah aku turun dari bus untuk bekerja di kantorku dan ternyata dia juga turun bersama denganku. Aku heran mengapa bisa begitu? Namun aku mengabaikan keherananku itu. Aku pun melangkah menuju kantor tempat aku bekerja karena hari itu ceritanya bosku ada pertemuan penting dengan seseorang yang aku sendiri tidak mengetahui siapa orang tersebut. Detik demi detik pun berlalu aku bersama rekan-rekan kerja dan juga bosku menunggu kehadiran orang tersebut dan tidak lama kemudian ada seseorang yang mengetuk pintu dari luar dengan suara sepertinya aku pernah mendengarnya, tetapi entah dimana aku lupa dengan seseorang yang mempunyai suara itu. Ceklek, dan begitu pintu dibuka dia pun masuk dan benar dia adalah seseorang yang bertemu denganku tadi pagi. 'Kamu' aku langsung spontan menunjuk dia. Aku pun ditegur oleh bosku 'Maia, pak Ridwan adalah pemilik dari perusahaan ini dan tidak sopan jika kamu menunjuk beliau seperti ini! Aku pun tidak tahu harus berkata apa selain kata maaf' Maaf pak, tetapi tadi pagi saya bertemu dengan beliau dan saya kira juga merupakan pegawai di perusahaan ini?'. Pak Ridwan pun tertawa sambil berkata' Pegawai? Ya kamu benar! Kita sama-sama pegawai di sini! 'Tapi pak?' Bosku pun heran dengan pak Ridwan. 'Bapak direktur disini sedangkan saya pegawai disini. Bapak tidak perlu menyambut saya dengan seperti ini. Em jadi kira-kira kerjaan saya apa ya hari ini?' tanya pak Ridwan dengan nada yang sulit diartikan. 'Bapak yakin ingin bekerja mulai hari ini?' tanya bosku lagi. 'Loh mengapa tidak! ' tegas pak Ridwan. 'Okey, semuanya kembali ke tempat kalian bekerja masing-masing. Sekarang!' perintah bos. 'Pak memangnya acara penyambutannya selesai sampai disini?' tanyaku. 'Memangnya kamu ingin menunjukkan keahlian apa dalam acara penyambutan ini? ' tanya pak Ridwan dengan nada bercanda. 'Maaf pak saya permisi!' karena merasa kesal dengan sikap pak Ridwan, aku pun pergi tanpa menjawab pertanyaannya. 'Hey, sepertinya kita akan menjadi rekan kerja dan sebaiknya kamu menjawab pertanyaanku!' panggil pak Ridwan dari kejauhan. Hah menyebalkan sekali mengapa aku mengapa aku merasa ilfeel dengan pak Ridwan. Entah terbentur apa kepalanya tadi pagi mengapa dia tiba-tia langsung baik padaku. Apa mungkin karena aku seumuran dengannya. Menyebalkan sekali mengapa aku harus sekantor dengan dia. Jam istirahat pun tiba akhirnya aku bisa makan di kantin, ya ini semua dikarenakan aku juga bekerja sampingan sebagai annoucer di salah satu radio. Saat makan bersama rekan kerja yang lainnya secara tidak sengaja aku melihat pak Ridwan tengah menatapku, waduh gawat ceritanya aku tidak pernah menduga sebelumnya. Rasanya aku ingin segera menghabiskan makananku tanpa melalui proses mengunyah dan menelan. 'Aku ingin minta maaf padamu, maaf aku telah membuatmu ilfeel!' kata seseorang yang tengah menghampiriku. 'Pak Ridwan?' Betapa terkejutnya aku ketika pak Ridwan duduk berhadapan denganku. 'Ke terkejutan kamu, aku anggap artinya kamu memaafkan aku' ucapan spontan terdengar di telingaku. Aku berusaha Untuk bersikap biasa saja. 'Sejak kapan bapak merasa kalau saya ilfeel dengan bapak, tetapi menurut saya bapak tidak pernah membuat saya ilfeel' kataku. 'Oh ya, tetapi aku melihat dari raut wajahmu menunjukkan bahwa kau nampak kesal padaku!' pak Ridwan pun tersenyum lalu melanjutkan kembali perkataannya 'Kamu mirip sekali dengan mantanku oleh sebab itu aku mengetahui tandanya melalui raut wajahmu'. 'Bagaimana mungkin hanya karena alasan aku mirip dengan mantannya, dia langsung mengetahui perasaanku melalui raut wajahku, alasan yang sulit diterima' kataku dengan pelan dan ternyata pak Ridwan mendengarnya. 'Kamu tidak mempercayaiku, wah sepertinya kau sangat sulit untuk di taklukkan, apa mungkin karena efek masa lalu? Sepertinya kamu pernah di khianati oleh mantan pacar kamu? Ets kamu jangan marah, aku hanya menebak saja siapa tahu tebakanku benar' kata pak Ridwan sambil melihat aku. 'Terima kasih pak atas tebakannya, sayangnya saya tidak akan menjawab tebakan dari bapak, permisi!' ucapku sambil melangkah pergi meninggalkan pak Ridwan. Mengapa aku meninggalkan pak Ridwan ya bagaimana tidak dia mencoba menanyakan tentang masa laluku apalagi berkaitan dengan mantanku, memang menyebalkan sekali orang itu. Seandainya saja dia bukan pemilik perusahaan di tempat aku bekerja pasti sudah ku hajar dia dengan jurus karateku. Rasanya ingin sekali aku menjahit mulutnya disaat dia membahas tentang mantanku. Kekesalanku akhirnya ternetralisir dengan selesainya pekerjaan ku di kantor tersebut, ya setidaknya aku tidak melihat pak Ridwan selama 1X24 jam. Bayangkan saja jika aku harus bertemu dengannya seharian penuh lama-lama aku tensi darahku bisa tinggi. Sore pun berlalu dan aku siaran radio bersama bang Yusuf yang merupakan kakak angkat dari mantanku. Oh iya aku lupa, kalau aku belum cerita tentang bang Yusuf. Jadi bang Yusuf merupakan announcer favorit aku saat sma dulu, dan ketika aku lulus sma aku mengikuti audisi untuk jadi annoucer ternyata aku lolos. Akhirnya aku bisa kerja di radio yang sama dengan bang Yusuf, tetapi aku tidak mengetahui jika bang Yusuf merupakan kakak angkat dari mantanku. Aku baru mengetahuinya setelah aku siaran selama 3 hari usai dari di terimanya aku bekerja di radio tersebut. Bang Yusuf yang menyampaikannya sendiri padaku, dan karena bang Yusuf orangnya suka bercanda jadi di hari pertama aku siaran dengannya. Tamatlah sudah riwayatku semua rahasiaku terbongkar karena bang Yusuf. Ketika itu yang menentukan tema adalah bang Yusuf jadi sebagai junior apa buat aku hanya menurutinya saja dan temanya mantan terindah. Tema yang luar biasa bukan, ini namanya bukan luar biasa lagi tetapi biasa di luar. Bagaimana tidak hari itu juga aku merasa bahwa tamatlah sudah riwayatku. Hingga tibalah saatnya kita siaran. 'Hai bang Yusuf, hari ini kita mau membahas tentang apa?' tanyaku. 'Ya bahas mantan kamulah' jawab bang Yusuf. 'Mantan aku, kenapa harus mantan aku?' tanyaku lagi. 'Karena tema kita haru ini adalah mantan terindah dan pertanyaannya siapa sih mantan terindah kamu?' tanya bang Yusuf dengan nada bercanda. 'Aku tidak mempunyai mantan terindah bang dan aku sangat berharap abang tidak membongkar rahasiaku disini' jawabku. 'Memangnya aku mempunyai kode rahasia tentang kamu, kan ceritanya kita baru partneran hari ini. Ingat loh hari ini merupakan hari pertama kita kerja' canda bang Yusuf. 'Iya abang benar sekali dan abang tahu dulu aku sangat berharap sekali untuk bisa jadi partner abang' kataku membalas candaan bang Yusuf. 'Biasalah aku kan lelaki idola idaman wanita' kata bang Yusuf. 'Sepertinya aku mengenal kata-kata itu, seperti sebuah lirik lagu ya?' tanyaku pura-pura tidak mengetahui. 'Aduh, anak baru berani-beraninya sama senior. Tapi ya sudahlah karena aku orang baik, aku maafkan. Okey kembali ke tema, aku mau tanya kenapa kamu pulih tema ini? Kamu teringat masa indah bersama mantan kamu?' kata bang Yusuf yang memulai mengorek informas tentang mantanku.' Hey-hey bang Yusuf ini bukan tema pilihan aku dan kenapa harus aku yang disalahkan? 'kataku membantah.' Oh iya aku lupa kalau ini adalah tema pilihan aku, disini karena temanya sudah ditetapkan. Jadi tidak mungkin kita membahas sesuatu diluar dari tema setuju?' tanya bang Yusuf.' Iya, aku mengerti dan sangat mengerti.' jawabku.' Karena aku belum koleksi satu pun mantan, jadi aku mau bertanya kriteria mantan terindah menurut kamu seperti apa? Mungkin pertama dia sering mengajak kamu jalan-jalan, kedua dia selalu memberi kabar seperti dia sedang apa dan lagi bersama siapa? atau mungkin yang ketiga saat ini dia masih mencoba untuk balikan sama kamu. Kamu jangan salah sangka dulu disini aku tidak membongkar rahasia kamu meskipun aku adalah kakak angkat dari mantan kamu.' kata bang Yusuf yang mulai mengobrak-abrik informasi tentang mantanku dengan cara halus.' Terima kasih bang Yusuf atas pertanyaan dan pernyataannya, tapi meskipun aku punya mantan menurut aku dia bukanlah mantan terindah untuk aku. Jadi sampai saat ini aku belum bisa memastikan seperti apa sih kriteria mantan terindah yang sesungguhnya.' jawabku yang berusaha mengalihkan pembicaraan.' Apa karena dia pernah... ' kata-kata bang Yusuf terpotong olehku karena aku berhasil mencegahnya. 'Bang Yusuf tolong aku minta dengan sangat, kita maduk ke intinya bahwa setiap orang mempunyai kriteria tersendiri tentang mantan terindah yang dia punya dan kalau aku belum mendapatkan kriteria tersebut' kataku. 'Tapi mantan kamu pernah bilang kalau dia pernah bertemu denganmu belum lama ini waktu acara sosialisasi dan sepertinya kamu adalah mantan terindahnya karena dia selalu menyebut namamu disetiap pembicaraan kita.'kata bang Yusuf yang akhirnya terbongkarlah sudah rahasiaku.' Iya, aku memang pernah bertemu dengannya tapi kalau soal dia menjadikan aku sebagai mantan terindahnya dia aku tidak mengetahui itu sama sekali, begitu bang Yusuf.
Langganan:
Postingan (Atom)